Kuota Belum Terpenuhi, Kulonprogo Masih Buka Peluang Program Transmigrasi

Kuota calon transmigran (catrans) tahun anggaran 2020 dari Kulonprogo yang akan dikirim ke sejumlah daerah di luar Jawa masih belum terpenuhi. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat bakal menggencarkan sosialisasi agar kuota yang masih kosong itu bisa segera terisi.

Kepala Bidang Transmigrasi, Disnakertrans Kulonprogo, Heri Widada, mengatakan pada 2020, Kulonprogo mendapat kuota catrans sebanyak 15 Kepala Keluarga (KK). Mereka akan ditempatkan di Bulungan, Kalimantan Utara sebanyak 2 KK; Mahalona, Sulawesi Selatan 3 KK; Sidrap, Sulawesi Selatan, 5 KK dan Muna, Sulawesi Tenggara 5 KK.

Namun dalam perjalanan, wilayah Sidrap dibatalkan karena tidak ada pembangunan permukiman, sehingga kuota yang tersedia hanya 10 KK. Adapun dari 10 itu, baru terisi 9 KK, itupun tidak sesuai dengan kuota, sebab ada tempat yang kelebihan pendaftar ada pula yang kekurangan.

"Yang kelebihan itu di Bulungan dari kuota 2 KK, diisi 4 pendaftar dan Mahalona dari 3 KK yang daftar 4. Sedangkan Muna baru terisi satu KK," kata Heri, Kamis (21/1/2020).

Menurut Heri, penyebab Muna sepi peminat karena lokasinya tidak terlalu menarik jika dibandingkan dengan Bulungan dan Mahalona. Untuk Bulungan cukup strategis karena lokasinya dekat dengan ibu kota provinsi. Sementara di Mahalona yang membikin menarik lantaran adanya komoditas lada.

Tak sedikit transmigran asal Kulonprogo berhasil meraih kesuksesan di Mahalona karena menanam lada yang dikenal memiliki harga cukup kompetitif itu. "Transmigran di sana [Mahalona] bisa sukses bahkan jadi jutawan karena lada yang begitu menggiurkan harganya," ujarnya.

Sedangkan wilayah Muna, disebut tak terlalu menarik minat karena tanaman yang bisa dikembangkan di sana hampir mirip dengan yang ada di Kulonprogo. "Kalau di Muna ini masih relatif sama dengan Kulonprogo, kebanyakan tanaman yang dikelola itu padi, jagung dan ketela," jelas Heri.

Namun, bukan berati transmigran di Muna tidak bisa meraih sukses. Sudah banyak catatan yang menyebut para transmigran di daerah tersebut berhasil mentas dari garis kemiskinan.

"Transmigrasi ini peluang bagi warga masyarakat yang ingin menyongsong masa depan lebih maju dan sejahtera karena semua fasilitas di sana diberikan gratis oleh pemerintah, mulai dari rumah lahan usaha, bantuan sarana pertanian, bantuan modal, jatah hidup. Yang penting ada niat insallah akan berubah lebih baik," kata Heri.

Terkait dengan belum terpenuhinya kuota untuk wilayah Muna, Heri mengatakan pihaknya akan kembali melakukan sosialisasi untuk menjaring warga Kulonprogo agar mau ikut program transmigrasi di sana.

"Pada 2021 ini akan dilakukan kembali sosialiasi atau komunikasi informasi edukasi sebanyak 10 kali dengan fokus utama kepada lokasi lokasi rawan bencana sesuai data dari BPBD Kulonprogo, namun tidak menutup kemungkinan daerah non rawan bencana yang pengalaman sebelumnya ada pendaftar juga akan disasar," jelasnya.

Selain untuk memenuhi kuota di Muna, Disnakertrans lanjut Heri juga akan mensosialisasikan program transmigrasi untuk tahun anggaran 2021 sembari menunggu informasi terkait kuota baru dari pemerintah pusat melalui Pemda DIY.

Salah satu transmigran asal Kulonprogo, yang kini tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat, Supri mengatakan program transmigrasi telah mengubah hidupnya dari semula serba kekurangan menjadi berkecukupan.

"Setelah mengikuti program ini, syukurlah hidup jadi berubah lebih baik, saya sekarang bertani dan nanam sawit," ungkap pria yang sudah mengikuti program transmigrasi sejak akhir 2018 lalu tersebut.